Showing posts with label Weekly Story. Show all posts
Showing posts with label Weekly Story. Show all posts

Saturday, September 13, 2014

#WeeklyStory: Kesal!


Kali ini saya tidak akan menuliskan artikel yang panjang lebar, karena pembahasan yang akan saya angkat ini tidaklah terlalu penting untuk dipanjang lebarkan. Artikel ini saya tulis untuk mengekspresikan kekesalan saya terhadap orang-orang yang dengan mudahnya memberi cap negatif terhadap hipnosis dan sulap. 

Bagi saya, salah satu alasan saya sangat sangat ngotot untuk mengenalkan seni sulap dan hipnosis kepada masyarakat adalah karena orang-orang tersebut. Mereka seolah-olah terhipnotis oleh pemberitaan yang beredar. Bayangkan saja, tanpa mau tahu tentang apa itu hipnosis dan sulap mereka mengatakan bahwa sulap itu gaib, menggunakan bantuan jin, setan, siluman, hipnotis itu kriminal, bahaya, jangan mau ikut pelatihan hipnotis, dan sebagainya. 

Darimana mereka mendapatkan informasi seperti itu? Terjawab sudah. Kebanyakan dari mereka menerima informasi tersebut karena pemberitaan media yang sudah ditanggapi dengan "salah kaprah" yang amat parah dan juga biasanya mereka juga mendapatkan informasi dari teman, sahabat, tetangga, bahkan dari orang yang tidak dikenal.

Setiap harinya saya cukup sering menemui orang yang memiliki anggapan seperti itu. Hal tersebut membuat saya semakin bersemangat dan tertantang untuk terus melanjutkan perjuangan saya membuktikan kepada masyarakat bahwa hipnosis dan sulap adalah hal yang jauh lebih baik dan banyak memiliki manfaat. 

Sekarang begini saja, jika Anda mendengar informasi dari mulut ke mulut dan Anda langsung percaya saja tanpa mencari fakta sebenarnya tentang informasi tersebut. Jika dianalogikan berarti seolah-olah Anda telah memakan makanan yang sudah dicerna oleh orang lain. Bahkan terkadang orang yang memberikan informasi kepada Anda tersebut sudah menambahkan "bumbu" yang sebenarnya tidak perlu ditambahkan, ke dalam informasi yang diberikan kepada Anda supaya menjadi lebih "pedas."

Pernahkah Anda membaca buku tentang hipnosis atau sulap? Anda tahu sejarah kedua ilmu tersebut? Gunakan logika berpikir Anda. Jangan sampai Anda seolah-olah terbodohi oleh lingkungan Anda. Jika Anda mendengar berita, atau membaca berita yang berisi informasi "jelek" tentang hipnosis atau sulap. Jangan terlalu cepat ambil kesimpulan. Tanyakan kepada yang lebih ahli, baca informasi yang lebih terpercaya. Jadilah orang yang bijak dalam berpendapat. (bds.)

Friday, July 25, 2014

#WeeklyStory: Lautan Lentera Magic Competition 2014


#WeeklyStory kali ini saya tidak akan menceritakan tentang pengalaman saya menghipnosis orang, tetapi saya akan menceritakan pengalaman saya ketika mengikuti sebuah kompetisi sulap. Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Minggu, 20 Juli 2014 saya mencoba mencari pengalaman baru dengan mengikuti sebuah kompetisi sulap di Lautan Lentera Magic Competition 2014 yang diadakan di arena Festival Lampion-PRPP, Semarang. 

Jujur saat itu adalah saat pertama saya berada di atas panggung dengan atmosfer kompetisi yang sangat panas. Pertama kali juga berada di atas panggung bersama pesulap-pesulap hebat. Dan tentunya semua peserta berambisi untuk menjadi yang terbaik di kompetisi tersebut. Pada kompetisi tersebut saya sempat bingung kategori apa yang harus saya pilih. Apakah saya akan menjadi seorang hipnotis ataukah mentalis. Dan akhirnya saya memutuskan untuk menjadi mentalis pada kompetisi tersebut. Ada beberapa hal yang membuat saya tidak memilih hipnotis untuk mengikuti kompetisi tersebut. Dan terbukti di kompetisi tersebut hanya ada satu orang hipnotis. Hal ini akan saya bahas di artikel selanjutnya.

Kemudian dalam waktu kurang dari satu minggu saya mempersiapkan sebuah konsep permainan mentalism dengan durasi tujuh menit. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kakak Indra Frenos (@IndraFrenos) yang telah banyak menginspirasi saya dalam pembuatan konsep permainan saya. Beberapa hari pun berlalu hingga akhirnya sampai juga pada hari H.

Di hari sebelumnya (Sabtu, 19 Juli 2014) 11 pesulap dari kota Semarang telah menunjukan kehebatan mereka. Dan pada hari selanjutnya (Minggu, 20 Juli 2014) giliran 9 pesulap dari luar kota Semarang yang beraksi. Berangkat dengan penuh kepercayaan diri saya sama sekali tidak merasa minder siapapun  saingannya. Ya, harusnya semua orang memiliki mindset seperti itu ketika akan mengikuti sebuah kompetisi. Merasa minder justru akan membunuh mental kita sendiri. So, woles saja lah.

Persiapan sebelum naik panggung.

Saya kebetulan mendapatkan nomor urut tampil ke-7, dan waktunya sudah cukup malam. Hal-hal tidak terduga mulai terjadi. CD musik saya tiba-tiba tidak bisa diputar. Tetapi, alhamdulillah beberapa saat kemudian permasalahan tersebut berlalu. Kemudian tibalah giliran saya untuk menampilkan aksi saya di atas panggung. Awalnya semua berjalan lancar. Saya memilih dua orang penonton untuk naik ke atas panggung. Sambil menunggu dua orang itu naik, saya pun turun panggung untuk mencari satu sukarelawan lagi. Ketika akan kembali ke atas panggung lagi, karena saya terburu-buru saya terpeleset dan terjatuh. Sedikit malu, tapi ya sudahlah, semua telah terjadi. Hal tersebut tidak saya pikirkan. Saya pun langsung bangkit, dan sejenak saya sempat nge-blank. Saya bingung harus apa lagi setelah itu. Akhirnya sambil menahan rasa sakit, saya melanjutkan permainan saya dengan penuh percaya diri. 

Di tengah permainan saya menemui kendala baru, salah seorang penonton yang tadi saya pilih untuk naik ke atas panggung ternyata kurang memahami apa yang saya instruksikan, sehingga prediksi saya nyaris salah. Seperti biasa, jurus ngeles super saya keluarkan dan akhirnya penonton tersebut kembali ke jalur permainan saya dan prediksi saya pun tepat. Pada saat itu saya sudah tidak memperdulikan bagaimana musik pengiring saya lagi, oleh sebab itu penampilan saya terkesan sedikit datar.

Prediksi pertama berhasil. Ketika akan memperlihatkan prediksi yang kedua, tiba-tiba mikrofon saya mati. Dan karena saya mengejar durasi waktu yang hanya 7 menit itu, akhirnya saya tidak memperdulikan mikrofon tersebut dan saya berteriak-teriak seperti tarzan untuk berkomunikasi dengan penonton. Tetapi akhirnya ada bapak-bapak baik hati yang mengantarkan mikrofon baru untuk saya. Terima kasih, pak. Tanpa Anda, pita suara saya mungkin sudah kusut. Dan akhirnya prediksi kedua saya pun tepat dan penonton memberikan applause kepada saya.

Ardin Marl (kiri) & Bagas Dharma (kanan)

Saya pun kembali ke backstage, dan ketika menuruni tangga ternyata lutut saya terasa nyeri karena terjatuh tadi. Sakitnya itu di sini, di lutut. Tapi tidak apa-apa, lebih baik sakit lututnya daripada sakit hatinya. Di belakang panggung saya mencoba merenungi kesalahan saya ketika di atas panggung tadi. Pertama, saya harus belajar lebih banyak lagi tentang musik pengiring saat pertunjukan. Kedua, harus cepat karena mengejar durasi waktu bukan berarti harus terburu-buru, supaya tidak jatuh lagi. Ketiga, skrip harus hapal! Pada saat itu saya baru sadar ternyata meaning permainan lupa saya sampaikan, karena saya langsung turun panggung. Dan setelah saya sudah tidak berharap mendapat apa-apa pada kompetisi tersebut.

Bagas Dharma (kiri) & Rizuki (kanan)

Selesai merenung dan ngobrol dengan beberapa peserta lain di backstage, saya kembali ke depan panggung untuk menyaksikan teman-teman pesulap lain yang beraksi. Dan hari itu saya banyak sekali belajar dari apa yang saya saksikan dan apa yang saya alami. Pelajarannya adalah, banyak sekali. Ya, saya tidak akan ceritakan sekarang. Tetapi yang jelas pengalaman tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Tidak mendapat uang dan piala tidak apa-apa, tetapi saya berhasil membawa pulang sejuta pengalaman di sana. Dan yang paling penting adalah, saya berkesempatan untuk foto dengan kakak Rizuki (The Master Season 3), bersalaman, dan meminta tandatangannya di kartu kesayangan saya (lebay!). Dan yang paling menyedihkan adalah, video rekaman saya ketika perform secara tidak sengaja terhapus oleh tangan saya sendiri. Sangat menyedihkan. Kalau Anda ingin tahu liputan keseruan acara tersebut, anda bisa baca artikel dan tonton videonya di sini. (bds.)

Friday, July 11, 2014

Belajar Hipnosis itu Mudah, Asal...


Gambaran seseorang yang belajar hipnosis, tidaklah semudah seperti orang yang melakukan transfer uang dari rekeningnya ke rekening milik orang lain. Tidak juga seperti seorang guru yang melakukan "transfer" ilmu kepada muridnya dengan cara memancarkan cahaya berwarna-warni dari tangannya lalu masuk ke tubuh muridnya layaknya seperti yang ada pada film atau sinetron di Indonesia.

Lalu jika tidak semudah apa yang baru saja saya jelaskan, apakah belajar hipnosis itu sulit? Tidak. Belajar hipnosis itu mudah, bahkan saya pun hanya butuh waktu tiga jam untuk bisa menghipnosis orang. Hebat, bukan? Tidak hebat, karena semua orang pasti bisa melakukan apa yang saya lakukan. Asalkan, tentunya juga harus didasari terlebih dahulu dengan pemahaman-pemahaman dasar tentang hipnosis. Ketika saya belajar menghipnosis orang, saya memang hanya membutuhkan waktu yang sebentar. Tetapi, tentunya sebelum itu saya sudah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari pemahaman-pemahaman dasar tentang hipnosis. Mulai dari sejarah, konsep dasar hipnosis, tahapan-tahapan menghipnosis, dan sebagainya.  Bagaimana caranya? Saya membeli buku tentang hipnosis, mencari artikel tentang hipnosis di internet, atau mengunduh ebook tentang hipnosis di internet yang sekarang ini banyak sekali disediakan gratis  bagi Anda yang ingin belajar hipnosis. 

Perlu Anda ketahui bahwa mempelajari teori dan berbagai pemahaman tentang hipnosis itu membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan hanya mempelajari praktik hipnosis. Bahkan mungkin Anda bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk mempelajari teori-teori tersebut. Mengapa demikian? Jawabannya singkat, karena teorinya sangat banyak.

Kemudian dimana letak kemudahan serta kesulitan mempelajari hipnosis? Pertama saya akan bahas letak kemudahannya. Semua orang bisa mempelajari hipnosis dengan mudah. Asalkan, mau belajar. Kebanyakan orang yang ingin belajar hipnosis hanya bernafsu untuk bisa menghipnosis saja, tanpa mau mempelajari teorinya terlebih dahulu. Ingat! Belajar teori tanpa belajar praktik, tentu tidak akan membuahkan hasil yang baik dan maksimal. Belajar praktik tanpa teori? Apalagi! Lalu bagaimana? Ya belajar teorinya juga. Jangan berharap Anda bisa menguasai hipnosis dengan baik jika Anda tidak mau belajar teorinya. Ketika Anda mengikuti pelatihan atau workshop hipnosis pun pasti Anda akan dibekali dengan pemahaman dasar tentang hipnosis terlebih dahulu.

Kedua. Sebenarnya ini bukan kesulitan, tetapi kebiasaan. Kebiasaan seseorang ketika dia hendak mempelajari hipnosis, selain malas belajar teori adalah malas berlatih atau praktik. Biasanya alasannya adalah malu, atau belum lancar bertutur katanya. Kalau tidak dilatih terlebih dahulu, bagaimana bisa menjadi tidak malu? Bagaimana bisa menjadi lancar? Apa semua itu bisa membaik dengan sendirinya tanpa berlatih? Tidak!

Praktik hipnosis sebenarnya sangat mudah dilakukan. Letak kesulitannya adalah, melawan rasa MALAS. Maka, belajar hipnosis itu mudah, asal... TIDAK MALAS. Jadi, kalau Anda malas belajar dan bermimpi ingin menjadi seorang master hipnotis, segera bangun! Jangan bermimpi lagi. Belajar dulu, berlatih dulu, baru bermimpi lagi dan kejar mimpi Anda. (bds.)

Friday, June 27, 2014

#WeeklyStory: Menghipnosis Anak


Hari Kamis, 26 Juni 2014 lalu saya mendapatkan kesempatan untuk bermain sulap di depan puluhan anak-anak usia 5-6 tahun dalam rangka penerimaan siswa baru sebuah MI di daerah saya. Ketika saya mempersiapkan beberapa trik sulap untuk acara tersebut sama sekali tidak terlintas di benak saya untuk melakukan aksi hipnosis, karena yang terpikir oleh saya saat itu adalah anak-anak sulit untuk dihipnosis. Bahkan mungkin akan lebih sulit dari orang dewasa.

Tetapi tiba-tiba saya mengingat tentang apa yang saya tuliskan di artikel tentang area kritik beberapa waktu yang lalu, yang mengatakan bahwa "area kritik seseorang baru akan mulai terbentuk ketika umur 8-10 tahun." Saya kemudian mulai berpikir dan menyadari. Berarti ketika seorang anak sedang memasuki usia-usia tersebut atau masih di bawah usia tersebut, area kritik seorang anak masih belum terbentuk atau bahkan sedang dalam tahap pembentukan. Mungkin seperti itu, tetapi saya sendiri masih belum mengetahui fakta sebenarnya. 

Seusai pertunjukan, saya keluar dari ruangan. Di luar ruangan, tanpa saya duga anak-anak yang sedari tadi menyaksikan pertunjukan saya dari luar ruangan sudah menanti saya dan ingin menyaksikan lagi permainan sulap saya. Saya pun akhirnya memainkan beberapa trik sulap. Kemudian hati kecil saya mulai bergejolak sangat ingin mencoba menghipnosis salah satu atau beberapa anak yang ada di sekeliling saya. Saat itu kurang lebih ada 10-15 anak. Usia mereka berkisar antara 10-12 tahun (perkiraan saya). Saya pun mulai melakukan beberapa tes untuk mengetahui seberapa baik tingkat penerimaan sugesti mereka. Dan tanpa saya duga lagi, ternyata hampir semuanya memiliki tingkat penerimaan sugesti yang baik. "Luar biasa!" Itu adalah dua kata yang terucap di dalam hati saya. 

Beberapa saat kemudian saya pun mencoba memberikan sugesti kepada salah seorang anak, tetapi tanpa membuat si anak memasuki kondisi trance (tidur hipnosis) yang sebenarnya. Saat itu saya kurang yakin untuk memasukkan si anak ke dalam kondisi hipnosis, karena yang saya takutkan adalah ketika nanti mungkin ada guru yang menyaksikan aksi saya dia mungkin akan berprasangka buruk dengan apa yang saya lakukan. Tetapi, lagi-lagi di luar dugaan saya. Dengan kalimat sugesti yang sangat sederhana dan tanpa proses induksi, ternyata sugesti yang saya berikan kepada si anak, berhasil!

"Sekarang tutup mata kamu sebentar. Nanti waktu saya pegang telinga sebelah kiri kamu seperti ini (sambil memegang telinga kirinya), kamu lupa dengan angka tujuh. Apa sekarang kamu sudah lupa dengan angka tujuh? (dia mengangguk)." Saya pun sempat tidak percaya ketika dia mengangguk. Lalu saya minta dia untuk membuka mata, dan ternyata dia benar-benar lupa dengan angka tujuh. Awalnya saya tidak yakin, lalu saya coba beberapa sugesti sederhana lainnya. Dan ternyata berhasil! Ketika saya minta dia untuk kembali seperti semula pun dia lupa dengan apa yang baru saja dia lakukan. Ini sungguh di luar dugaan saya. 

Saya masih merasa pengetahuan saya dalam seni hipnosis masih sangat kurang, tetapi pengalaman saya yang satu ini membuat saya banyak belajar. Jujur saja saya belum pernah membaca buku atau artikel tentang menghipnosis anak. Tetapi setelah mengalami pengalaman tersebut, saya akan tarik kesimpulan (tetapi mungkin ini hanya opini saya, karena saya belum mengetahui fakta sebenarnya). Mungkin benar adanya area kritik anak yang saya hipnosis tadi masih belum terbentuk, atau sudah terbentuk tetapi fungsinya sebagai filter pikiran masih belum bekerja secara maksimal layaknya orang dewasa. Ketika area kritik belum terbentuk atau fungsinya masih belum maksimal, tentu saja informasi akan lebih mudah masuk ke pikiran bawah sadar. Jadi, anak-anak sebenarnya berpotensi sangat mudah dihipnosis, walaupun mungkin masih cukup sulit untuk bisa memasuki kondisi hipnosis yang sama seperti orang dewasa. 

Menurut saya, yang mempengaruhi bisa atau tidaknya seorang anak dihipnosis adalah "bahasa yang kita gunakan." Mungkin si anak yang saya hipnosis bisa memahami dengan baik bahasa yang saya gunakan. Tetapi jika anak tidak memahaminya, saya yakin pasti hipnosis akan gagal. Jadi, ternyata gaya bahasa kita lah yang mempengaruhi bisa atau tidaknya seorang anak kecil dihipnosis. 

Nah, itu tadi adalah sedikit cerita pengalaman saya ketika menghipnosis anak-anak. Jika Anda memiliki saran atau pengalaman yang sama tentang proses menghipnosis anak, Anda bisa menghubungi saya di sini. (bds.)